Digital clock

Senin, 21 Januari 2013

sumber belajar


BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
Peran guru sebagai fasilitator dalam pelaksanaan pendidikan untuk anak usia dini harus mampu memberikan kemudahan kepada anak untuk mempelajari berbagai hal yang terdapat dalam lingkungannya.
Seperti kita ketahui bahwa anak usia dini memiliki rasa ingin tahu dan sikap antusias yang kuat terhadap segala sesuatu serta memiliki sikap berpetualang serta minat yang kuat untuk mengobservasi lingkungan. Ia memiliki sikap petualang yang kuat. Pengenalan terhadap lingkungan di sekitarnya merupakan pengalaman yang positif untuk mengembangkan minat keilmuan.
Pada makalah ini akan dikaji beberapa hal yang berkaitan dengan pentingnya pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar yang diawali dengan pembahasan mengenai sekolah dan guru lain sebagai sumber belajar  dilanjutkan dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dan menciptakan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

1.2     Rumusan Masalah
1.    Bagaimanakah sekolah dan guru lain sebagai sumber belajar?
2.    Bagaimanakah pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar?
3.    Bagaimanakah cara menciptakan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar?

1.3     Tujuan 
1.      Untuk mengetahui sekolah dan guru lain sebagai sumber belajar.
2.      Untuk mengetahui pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar.
3.      Untuk mengetahui cara menciptakan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.
BAB II
 PEMBAHASAN

2.1  Sekolah dan Guru Lain Sebagai Sumber Belajar
            Dunia pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan lingkungan. Lingkungan adalah sumber belajar yang vital. Pembelajaran yang menjadikan lingkungan sebagai objek belajar dapat memberikan pengalaman yang nyata dan langsung kepada peserta didik. Pada proses belajar mengajar, guru tidak lagi hanya mentransfer ilmu pengetahuannya, tetapi siswa sendiri yang harus membangun pengetahunnya.
Lingkungan pembelajaran yang baik adalah lingkungan pembelajaran dimana :
a.       Siswa dan guru belajar bersama sebagai suatu komunitas belajar
b.      Guru menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran
c.       Guru mendorong partisipasi aktif siswa dalam belajar, dan
d.      Guru memiliki minatuntuk memberikan layanan pendidikan yang terbaik.
Untuk menciptakan kondisi dan lingkungan belajar yang nyaman maka seorang guru harslah :
a.    Berperan sebagai manajer pembelajaran, memiliki kemandirian dan otonomi yang seluas-luasnya dalam mengelola keseluruhan kegiatan belajar-mengajar dengan mendinamiskan seluruh sumber-sumber penunjang pembelajaran. Guru harus berperan sebagai partisipan, tidak hanya berperilaku mengajar, tetapi juga belajar dari interaksi dengan siswa.
b.    Berperan sebagai pelatih, memberikan peluang bagi siswa mengembangkan cara-cara pembelajaran sesuai dengan kondisi masing-masing. Guru hanya memberikan prinsip-prinsip dasar, tidak memberikan satu cara yang mutlak.
c.    Berperan sebagai konselor, mampu menciptakan interaksi belajar-mengajar, di mana siswa melakukan perilaku pembelajaran dalam suasana psikologis yang kondusif dan tidak ada jarak dengan guru.
d.   Sebagai fasilitator, guru harus mampu memahami kondisi setiap siswa dan membantunya kea rah perkembangan optimal. Sebagai fasilitator, juga berperan sebagai motivator dan memfasilitasi kegiatan belajar siswa.
e.    Sebagai kreator proses belajar mengajar dituntut untuk dapat menguasai perkembangan teknologi di bidangnya untuk merancang dan menyampaikan pembelajaran.
f.     Sebagai pemimpin, diharapkan menjadi seseorang yang mampu menggerakkan orang lain mewujudkan perilaku menuju tujuan bersama.
g.    Sebagai pengarang harus kreatif dan inovatif menghasilkan karya yang akan digunakan melaksanakan tugas-tugas profesionalnya.
Dalam pembelajaran terutama pembelajaran kelas rangkap, kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sebagai salah satu sumber belajar sangatlah penting. Seorang guru dituntut mampu mengenali dan memanfaatkan sumber belajar yang tersedia di sekitar siswa.
                        Dalam pembejaran kelas rangkap kemitraan antar guru baik di dalam lingkungan sekolah yang sama maupun sekolah yang berbeda sangatlah penting, karena dapat membiasakan diri bermitra kerja sesama guru dapat saling mengisi kekurangan. Winataputra (1999) menyebutkan bahwa melalui pembiasaan kerjasama antar guru dan antar sekolah dapat dicapai hal-hal sebagai berikut ;
a.    Program pembelajaran dapat dilakukan lebih efisien dan efektif dalam arti hemat sumber daya dan mencapai tujuan secara optimal.
b.    Tercipta suasana kebersamaan dan kesejawatan antar guru dalam membangun dan memelihara suasana pendidikan persekolahan yang demokrais.
c.    Kebersamaan dan kesejawatan antar guru akan menjadi model bagi para siswa dalam membina persahabatan antar siswa.
d.   Pemecahan masalah-masalah pendiidkan di SD akan menjadi semakin mudah dan ringan .

1.      Kerjasama sesama guru dari satu sekolah
Kerjasama antara sesama guru di satu sekolah dapat dilakukan dengan berbagai cara tergantung situasi dan kebutuhan. Winataputra (1999) menyebutkan bahwa pembelajaran yang terkondisikan menggunakan pendekatan PKR memerlukan berbagai sarana pembinaan professional guru yang dapat dimanfaatkan secara mandiri oleh setiap guru diharapkan adanya koordinasi antara kepala sekolah dan pihak guru.

2.      Kerjasama guru dari sekolah lain
      Dalam beberapa hal seringkali kita tak mampu memecahkan masalah pembelajaran sendiri, bahkan setelah didiskusikan dengan teman sejawat dalam satu sekolah. Untuk itu kita perlu mengadakan hubungan kerjasama dengan teman sejawat di sekolah lain. Djalil, dkk. (2005) menyebutkan bahwa kerjasama antar sekolah merupakan faktor yang sangat penting, misalnya untuk kepentingan :
a.    Berdiskusi dan tukar pengalaman untuk mengatasi berbagai kesulitan mengajar.
b.    Membangun Pusat Sumber Belajar (PSB) yang saat ini dikenal sebagai Pusat Sumber Belajar Guru (PSBG).
c.    Mengadakan kegiatan bersama.
d.   Saling membantu dan mengajar.
Kerjasama yang dilakukan guru dengan guru dari sekolah lain dapat berupa KKG (Kegiatan Kerja Guru), MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran ), KKKS (Kelompok Kerja Kepala Sekolah) adalah forum yang dapat dijadikan untuk saling tukar informasi, pengalaman, berdiskusi untuk memecahkan berbagai kesulitan mengajar dan mengerjakan sesuatu secara bersama.

2.2 Memanfaatkan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar
            Menurut Effendi (1995) minat adalah variabel penting yang berpengaruh terhadap tercapainya prestasi atau cita-cita yang diharapkan seperti yang dikemukakan bahwa belajar dengan minat akan lebih baik daripada belajar tanpa minat. Prinsip PKR yang menekankan pada perlunya memahami sumber belajar secara optimal, maka sudah seharusnya disadari perlunya memahami dan memanfaatkan lingkungan secara optimal.
            Malcolm Knowles (1975) menggambarkan bahwa belajar mandiri menekankan pendidikan pada inisiatif individu dalam belajar. Belajar mandiri adalah suatu kondisi dimana seseorang mengambil inisiatif dengan ataupun tanpa bantuan orang lain baik dalam mendiagnosa kebutuhan belajarnya, menemutunjukkan sumber manusia dan sumber bahan untuk kepentingan belajarnya, serta memilih dan melaksanakan strategi belajar yang cocok, serta mengevaluasi hasil belajarnya. Pada pembelajaran dengan PKR seorang guru harus mampu membuat murid belajar secara independen.
            Winataputra (1999) menyebutkan bahwa sumber belajar meliputi hal-hal sebagai berikut :
a.    Lingkungan sosial atau manusia antara lain guru, siswa lain, orang tua dan anggota masyarakat.
b.    Lingkungan hidup seperti flora dan fauna.
c.    Lingkungan alam seperti tanah, air, udara, awan, hujan.
d.   Lingkungan budaya seperti pranata social,pengetahuan dan teknologi.
e.    Lingkungan religius seperti kitab suci dan acara keagamaan.
Kelima unsur lingkungan tersebut berpotensi memberi stimulus atau rangsangan belajar pada siswa.
1.      Lingkungan sekolah sebagai sumber belajar
                  Peranan guru disini adalah berusaha untuk memfasilitasi siswa agar lebih banyak mengalami belajar bersama dengan berbagai macam karakter manusia sehingga siswa lebih siap saat terjun ke dalam masyarakat. Dengan hal seperti itu, maka siswa diharapkan memperoleh banyak hal antara lain pengetahuan dan keterampilan lebih banyak karena mereka dapat belajar dari sesama teman. Belajar dari sesama teman memiliki makna lebih besar sebab siswa lebih mudah memahami bahasa dan isyarat yang diberikan oleh temannya. Lewat kegiatan berkelompok siswa memperoleh berbagai hal yang sulit didapatkan pada saat belajar sendiri, seperti sikap mau menghargai orang lain, sikap mau menerima orang lain, bekerja sama, dan sikap menikmati hidup bersama orang lain. Sehingga pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar menjadikan siswa lebih mudah dan lebih menggapai ilmu dan keterampilan.

2.      Lingkungan sekitar sebagai sumber belajar   
Memanfaatkan lingkungan sekitar dengan membawa anak-anak untuk mengamati lingkungan akan menambah keseimbangan dalam kegiatan belajar. Artinya belajar tidak hanya terjadi di ruangan kelas namun juga di luar ruangan kelas, dalam hal ini lingkungan sebagai sumber belajar sangat berpengaruh terhadap perkembangan fisik, keterampilan sosial dan budaya, perkembangan emosional serta intelektual.
·         Perkembangan Fisik
Lingkungan sangat berperan dalam merangsang pertumbuhan fisik anak, untuk mengembangkan otot-ototnya. Anak memiliki kesempatan yang alami untuk berlari-lari, melompat, berkejar-kejaran dengan temannya dan menggerakkan tubuhnya dengan cara-cara yang tidak terbatas. Dengan pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajarnya, anak-anak menjadi tahu bagaimana tubuh mereka bekerja,  kegiatan ini sangat alami dan sangat bermanfaat dalam mengembangkan aspek fisik anak.
·         Perkembangan aspek keterampilan sosial
Lingkungan secara alami mendorong anak untuk berinteraksi dengan anak-anak yang lain. Anak-anak dapat membangun keterampilan sosialnya ketika mereka membuat perjanjian dengan teman-temannya untuk bergantian dalam menggunakan alat-alat tertentu pada saat mereka memainkan objek-objek yang ada di lingkungan tertentu. Melalui kegiatan seperti ini anak berteman dan saling menikmati suasana yang santai dan menyenangkan.
·         Perkembangan aspek emosi
Lingkungan pada umumnya memberikan tantangan untuk dilalui oleh anak-anak. Pemanfaatannya akan memungkinkan anak untuk mengembangkan rasa percaya diri yang positif. Rasa percaya diri yang dimiliki oleh anak terhadap dirinya sendiri dan orang lain dikembangkan melalui pengalaman hidup yang nyata. Lingkungan sendiri menyediakan fasilitas bagi anak untuk mendapatkan pengalaman hidup yang nyata.
·         Perkembangan intelektual
Anak-anak belajar melalui interaksi langsung dengan benda-benda atau ide-ide. Memanfaatkan lingkungan pada dasarnya adalah menjelaskan konsep-konsep tertentu secara alami. Konsep warna yang diketahui dan dipahami anak di dalam kelas tentunya akan semakin nyata apabila guru mengarahkan anak-anak untuk melihat konsep warna secara nyata yang ada pada lingkungan sekitar.
      Menurut Djalil, dkk. (2005). Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan lingkungan sebagai sumber belajar, yaitu :
a.       Sumber tersebut mudah di jangkau (kemudahan)
b.      Tidak memerlukan biaya tinggi (kemurahan)
c.       Tempat tersebut cukup aman digunakan sebagai sumber belajar (keamanan)
d.      Berkaitan dengan materi yang diajarka disekolah (kesesuaian)
     Melalui metode ini, bentuk tugas yang diberikan disesuaikan dengan kemampuan anak didik pada batas frekuensi yang tetap menggairahkan mereka sehingga tidak menimbulkan kebosanan dan kejenuhan. Djalil, dkk. (2005) membuat beberapa langkah dalam menentukan lingkungan sebagai sumber belajar sebagai berikut :
a.       Topik dan materi pembelajaran erat sekali kaitannya dengan lingkungan.
b.      Lingkungan yang dipilih merupakan salah satu sumber yang paling mungkin dapat digunakan untuk memperkaya materi.
c.       Sumber tersebut paling sesuai dengan sekolah dilihat dari kemudahan, kemurahan, keamanan, dan kesesuaian materi.
d.      Sumber dari buku diasakan kurang atau tidak ada contohnya dan sulit diterapkan pada pembelajaran dengan pendekatan PKR.                 
3.      Masyarakat sebagai sumber belajar
      Dalam pelaksanaan PKR kemitraan antara guru dan antar guru dengan masyarakat sangatlah penting, lebih-lebih guru yang bertugas di SD yang sumber belajarnya di sekolah sangat terbatas. Djalil, dkk. (2005) menjelaskan bahwa hal yang harus dipertimbangkan dalam memanfaatkan nara sumber adalah :
a.       Materi atau informasi yang dapat diperoleh dari nara  sumber, tidak dikuasai guru ada.
b.      Nara sumber tersebut tepat, artinya yang dijadikan nara sumber harus orang yang benar-benar memiliki informasi tersebut.
c.       Hindarkanlah hal yang berwarna politik, karena murid SD belum saatnya diberi informasi politik praktis.
Tujuan pemanfaatan lingkungan masyarakat sebagai sumber belajar adalah untuk mengupayakan agar terjadi proses komunikasi atau interaksi antara sekolah khususnya para siswa dan masyarakat. Interaksi yang baik akan menumbuhkan saling pengertian antara kedua pihak. Harapannya adalah terjadinya peningkatan relevansi antara kurikulum sekolah dengan kebutuhan masyarakat

2.3  Menciptakan Lingkungan Sekolah Sebagai Sumber Belajar
                               Pada pembelajaran dengan pendekatan PKR seorang guru harus mampu menciptakan kondisi  sekolah ataupun ruang kelas yang mendukung proses pembelajaran termasuk belajar mandiri. Kondisi yang dimaksud adalah melengkapi pembelajaran dengan perlengkapan dan sumber belajar yang memadai.

1.      Melengkapi ruang kelas dengan berbagai sumber belajar
      Ruang kelas merupakan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar, tempat sebagian besar kegiatan pembelajaran berlangsung. Menciptakan ruang kelas yang menyenangkan akan membantu berlangsungnya proses pembelajaran. Ruang kelas yang berisi sumber belajar dan alat belajar sangat membantu guru dan siswa dalam pembelajaran, terutama sekolah yang terkondisikan untuk melakukan pembelajaran kelas rangkap.

2.      Melengkapi lingkungan sekolah dengan berbagai sumber belajar
      Pada dasarnya keberhasilan suatu kegiatan pembelajaran terutama terletak pada guru yang ditunjang dengan seluruh komponen yang ada di sekolah tersebut. Suatu sekolah dengan jumlah guru yang terbatas, sangat membutuhkan kreatifitas dalam menciptakan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar. Ada 2 cara untuk meningkatkan pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar yang dapat meningkatkan kualitas belajar siswa adalah :
a.       Menciptakan lingkungan sekolah yang memudahkan murid-murid untuk belajr mandiri, yang dapat dilakukan dengan cara melengkapi sekolah atau ruang kelas dengan berbagai sumber belajar.
b.      Memanfaatkan sumber belajar yang ada secara maksimal untuk menunjang belajar mandiri.
(Djalil, 2005)


























BAB III
PENUTUP


2.4  Simpulan
      Dari pembahasan tersebut di atas kami dapat menarik beberapa simpulan. Simpulan-simpulan tersebut antara lain:
1.      Dalam suatu pembelajaran seorang guru harus mampu memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.
2.      Penggunaan lingkungan sangat baik bagi penanaman materi pelajaran dimana media yang digunakan harus berhubungan dengan lingkungan fisik yang ada di sekitar mereka.
3.      Sekolah  juga hendaknya dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai sehingga proses belajar mengajar dapat terlaksana dengan baik. Sarana dan prasarana ini tidak harus mahal/mewah namun tepat sasaran atau sesuai dengan kebutuhan.

2.5  Saran-Saran
Selanjutnya, berdasarkan simpulan di atas ada beberapa saran yang dapat dikemukakan oleh kami, yakni:
1.      Guru sebaiknya lebih kreatif dalam memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar guna memudahkan anak memahami konsep yang dipelajari.
2.      Guru hendaknya mampu mengkaitkan materi dengan  memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar agar siswa dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Peran serta pemerintah dalam melengkapi setiap sekolah dengan sarana dan prasarana pembelajaran sangatlah dibutuhkan. Dalam hal ini pemerintah hendaknya bersikap objektif.

DAFTAR PUSTAKA

Susilowati. 2009. Pembelajaran Kelas Rangkap. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar